Buat Kawanku di Senayan

DPR RI senayan
Apakah yang terjadi pada dirimu kawanku?
Kemarin engkau berbicara tentang kemakmuran rakyat, etika politik, penegakan hukum, pemberantasan korupsi, dan demokrasi. Berdiri bulu kudukku saat mendengar retorikamu tentang nasionalisme, kemanusiaan, persamaan gender dan banyak lagi. Tapi mengapa hari ini kulihat engkau membisu, sambil mengendap-endap di balik pintu-pintu sang penguasa?

Kemarin kita satu barisan mengarak semangat perubahan. Meneriakkan kata revolusi di jalan-jalan sambil menyeret setumpuk nilai-nilai moralitas di hadapan para penguasa yang lalim… tapi hari ini engkau lebih banyak berbisik seolah tak ingin ucapanmu terekam oleh sekumpulan lalat hijau yang beterbangan di sekitar bokongmu… Entah sejak kapan, tapi hari ini engkau makin mahir menggumankan bahasa lobi mengalahkan bahasa revolusi yang kemarin engkau teriakkan dengan penuh semangat.

Kemarin engkau bercerita tentang kemiskinan struktural, bahwa kita miskin bukan karena kita memang miskin tapi akibat sejumlah aturan dan regulasi pemerintah yang tidak pro rakyat. Kebijakan ekspor dan impor, masalah keagrariaan, persoalan penentuan prioritas untuk komoditas unggulan, penanganan pemerintah terhadap UKM dan para pedagang kaki lima, pasar terbuka dan banyak lagi, kau menyebutnya sebagai penyebab miskinnya rakyat kita.

Tapi hari ini kulihat engkau lebih banyak melakukan pengingkaran akan realita. Bagimu kondisi rakyat normal-normal saja, bahwa kemiskinan mereka adalah akibat dari kemalasan mereka sendiri. Seolah matamu kini tak dapat menangkap kerja keras para kuli bangunan yang tubuhnya kian legam dibakar matahari atau perjuangan sekelompok perempuan desa yang perkasa yang mengayuh sepeda mereka puluhan kilometer jaraknya hanya untuk menjajakan sayuran di pasar-pasar kota…

Sesungguhnya hari ini aku berduka untukmu kawan.

Engkau kini terlampau elite untuk mendengar, terlampau berkuasa untuk mewakili kepentingan kami orang-orang kecil. Bahkan di tanah lapang yang kemarin kita gunakan untuk berkumpul dan melaksanakan rapat umum telah kau dirikan menara tinggi untuk menggambarkan kekuasaanmu. Aku melihat dirimu kawan tengah tersesat dan terasing dalam tembok-tembok kekuasaan yang engkau dirikan sendiri.

Sejujurnya kami malu melihat dirimu berkubang dalam kebohongan dan kemunafikan. Kami tidaklah sepandai dirimu tapi juga tidak terlalu bodoh untuk mempercayai lagi dusta-dustamu kawan. Di mata kami engkau kini hanyalah seorang oportunis yang sedang berbicara dan bertindak atas nama kami, orang-orang yang dulu menjadi sahabatmu dan pernah mencintaimu…

wam’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *