Norman Oh Norman

Media-media beberapa hari ini getol memberitakan lahirnya selebritis baru di belantika musik tanah air, Briptu Norman Kamaru. Video lipsing-nya di Youtube.com beberapa waktu lalu menghebohkan komunitas dunia maya di tanah air dan seketika melambungkan nama anggota brimob gorontalo ini di seantero negeri. Tawaran show dan rekaman mengalir deras bahkan sejumlah pejabat baik pusat maupun daerah seolah menemukan momentum yang tepat untuk menarik simpati rakyat lewat undangan pertemuan dengan Norman ‘shahruk khan’ Kamaru.

Fenomena Briptu Norman ini memang sangat menarik. Sensasi yang diciptakannya membuat sebagian besar rakyat Indonesia sedikit melupakan beberapa isu-isu seperti masalah terorisme, kasus cek perjalanan dinas anggota DPR, kasus korupsi yang melibatkan sejumlah kader partai besar hingga kepada kasus jatuhnya pesawat jenis Xian MA-60 buatan china milik maskapai penerbangan nasional Merpati yang hingga kini masih menuai polemik .

Hebatnya lagi, institusi Polri sendiri bahkan memberi ruang yang cukup besar kepada anggotanya ini untuk merintis ‘karier barunya’ di dunia hiburan. Meski sebelumnya pihak polda Gorontalo secara tegas menyatakan akan memberikan hukuman indisipliner namun karena adanya desakan yang begitu besar dari masyarakat lewat jejaring sosial di internet, ‘hukuman’ itu pun akhirnya diwujudkan lewat kesempatan menyanyi dan berjoget di depan rekan-rekannya. Tak kurang Mabes Polri pun turut menyatakan dukungannya dengan menggelar press conference untuk menjelaskan sikap mereka tersebut kepada publik.

Apakah ini merupakan sinyalemen bahwa tubuh polri saat ini sedang mengalami reformasi dengan mengedepankan pendekatan simpatik dan elegan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat atau polisi penari india ini hanya menjadi alat kampanye untuk meredam kritikan-kritikan yang selama ini mengarah kepada kepolisian atas sejumlah kasus yang gagal diantisipasi dan diberantas seperti kasus pengrusakan rumah ibadah, kekerasan atas jemaah ahmadiyah di sejumlah tempat, kasus main hakim sendiri yang dilakukan oleh sejmlah kelompok dengan mengatasnamakan agama, kasus bom buku, dan kasus-kasus lain yang selama ini menjadi perhatian masyarakat.

Apapun alasannya, reformasi atau dieksploitasi , Briptu Norman setidaknya telah membuat kita semua tersenyum lewat goyang chaiyya, chaiyya –nya dan sedikit membuat rakyat sedikit melupakan ‘penderitaan’ akibat serbuan berita-berita panas tentang intrik-intrik politik dan terorisme di media-media. Bahkan sang seleb baru sendiri setidaknya menikmati rejeki yang cukup besar dengan aktivitas barunya ini. Honor-honor show, kontrak rekaman hingga kepada beasiswa kini membanjir mengikuti ketenarannya.

Selain itu Ibu-ibu dan para gadis di kompleks saya kini pun memiliki bintang baru. Setiap hari mereka memiliki jam-jam khusus dimana seluruh aktivitas mereka terhenti saat tayangan infotainment di televisi menghadirkan laporan utama yang mengupas habis kehidupan luar dan dalam Norman Kamaru. Norman yang lagi show, Norman berjoget di depan petinggi negeri hingga ciuman hot ala Norman, semuanya menjadi komoditas dan sensasi yang tak mungkin dilewatkan oleh mereka. Saya hanya bisa mengguman… ”norman..oh norman…” sambil berharap tak ada kompor gas pembagian dari kelurahan yang meledak gara-gara lupa dimatikan, atau bocah-bocah yang tiba-tiba menghilang karena lepas dari pengawasan sang ibu saat Briptu Norman sedang berjoget di TV.

wam’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *